Tampilkan postingan dengan label Speed. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Speed. Tampilkan semua postingan

Aktifitas Speed & Diafragma

Ingin melihat aktifitas speed dan diafragma di dalam kamera dalam sebuah video tayangan lambat? Cek video yang saya ambil dari youtube di bawah ini:
Pada video di atas, sebelah kiri adalah diafragma dengan bukaan f/16 (perhatikan diameter yang terbuka sangat kecil karena angka f-nya besar yaitu 16) dan sebelah kanan adalah shutter speed (dibalik cermin) yang bergerak dari atas ke bawah hanya dalam waktu 1/4000". Kamera yang digunakan adalah Nikon D3 dengan lensa 50mm f/1.4 dan menggunakan continuous shooting dengan kecepatan 11fps (frame per second). Artinya, dalam waktu 1 detik kamera tersebut mengambil 11 buah foto, diafragmanya 11 kali terbuka dan tertutup dan speednya 11 kali bergerak dengan kecepatan 1/4000". Luar biasa bukan? :)

Shutter Speed

Di dalam bodi kamera terdapat alat yang bertugas mengatur lamanya cahaya masuk ke dalam sensor. Alat itu disebut shutter speed atau dalam bahasa Indonesia disebut kecepatan rana dan lebih sering disebut dengan speed.
Speed dapat diatur lama terbukanya. Untuk kamera DSLR umumnya dapat disetel dari mulai speed paling lambat yaitu 30” (detik) sampai dengan yang paling cepat 1/4000” tergantung tipe kamera. Kamera DSLR profesional bisa sampai 1/8000” atau 1/12000”. Bisa membayangkan 1/12000” cepatnya seperti apa?
Pengaturan speed berguna agar cahaya yang masuk ke dalam sensor tidak berlebihan (jika terlalu lama terbuka) sehingga over exposure dan tidak pula kekurangan (terlalu cepat terbuka) atau under exposure.
Gambar di sebelah kiri adalah informasi speed yang terdapat di panel kamera. Angka 400, berarti speed yang digunakan adalah 1/400”. Sedangkan jika angka yang tertera adalah 4”, berarti speed yang digunakan adalah 4 detik. Jika yang tertera adalah 3”2, berarti speed yang digunakan adala 3,2 detik. Cukup mudah kan menghapalnya?
Dalam kondisi pemotretan normal menggunakan tangan (handheld), speed yang umum digunakan adalah 1/60”. 1/60” merupakan kecepatan yang normal untuk mengambil momen-momen yang pergerakannya juga normal seperti aktifitas manusia sehari-hari. Dibawah 1/60”, kita harus mewaspadai pergerakan tangan kita yang mungkin akan mempengaruhi hasil foto dikarenakan tangan kita yang tidak mungkin 100% diam.
Speed memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil foto. Semakin cepat speed, semakin freeze (membeku) foto yang dihasilkan. Dan sebaliknya, jika speed lambat akan mengakibatkan foto menjadi blur. Objek yang bergerak memerlukan speed yang cukup untuk ‘mengunci’-nya agar tidak blur pada saat difotonya. Jika memotret objek bergerak, saatnya menggunakan mode S/Tv dan menyerahkan seting diafragma kepada kamera agar hasil foto tidak blur karena pergerakan objek. Dibawah adalah contoh perbandingan foto yang menggunakan speed berbeda.
Speed tinggi 1/1250" (kiri) dan speed lambat 1/40" (kanan)
- klik gambar untuk memperbesar
Foto di atas adalah contoh memotret objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi (kiri). Seting foto tersebut menggunakan speed 1/1250”. Ketika melintas, sepeda motor tersebut saya perkirakan memiliki kecepatan 50km/jam. Dengan menggunakan speed tinggi, saya dapat menangkap momen secara detail dan seolah membeku. Dapat dilihat percikan air yang menyembur dari bagian belakang sepeda motor, latar belakang yang sangat jelas, dan jari-jari roda sepeda motor yang dapat terlihat dengan jelas seolah sepeda motor tersebut sedang diam.
Terkadang untuk memotret objek bergerak cepat kita ingin mendapatkan efek kecepatan dari sang objek. Jika foto di sebelah kiri objeknya tampak diam membeku, kita bisa juga memotretnya dengan cara yang berbeda untuk mendapatkan efek ‘ngebut’ dengan menggunakan speed lambat. Kegiatan ini disebut dengan panning, seperti yang ada di foto sebelah kanan.
Pada foto sebelah kanan, bisa dilihat bagian latar belakang dari motor ini tampak blur karena pergerakan dan jari-jari roda motor tidak terlihat karena sedang berputar. Ini dikarenakan foto tersebut diambil menggunakan speed lambat, yaitu 1/40”. Ketika motor melaju dengan kecepatan tinggi, waktu 1/40” merupakan waktu yang cukup lambat sehingga laju motor dapat terekam pergerakannya selama 1/40”.
Untuk mendapatkan efek ini, kita harus fokus di objek lalu menekan tombol shutter sambil menggerakkan kamera searah dengan objek. Dengan cara tersebut kita dapat memperoleh foto dengan objek yang fokus namun dengan latar belakang blur yang membuat objek tampak sedang melaju kencang. Lain halnya jika saya menggunakan speed tinggi seperti di foto sebelah kiri, laju motor tidak sempat terekam dan tampak diam karena speed yang digunakan begitu tinggi yaitu 1/1250”. Baik speed cepat maupun lambat, keduanya sering digunakan karena memberikan efek positif yang berbeda seperti pada dua foto berikut.
Foto dengan speed tinggi (kiri) dan speed lambat (kanan)
- klik gambar untuk memperbesar
Hal yang perlu diketahui adalah, ketika menggunakan speed tinggi kita tidak perlu khawatir untuk memotret menggunakan tangan. Speed yang begitu tinggi tidak akan menangkap pergerakan tangan kita yang goyang setiap saat. Tapi sebaliknya, jika kondisi mengharuskan menggunakan speed lambat seperti pada foto spion mobil di atas, kita perlu menyangga kamera di tempat yang solid atau gunakan tripod. Tanpa penyangga, jangan harap akan mendapatkan hasil yang bagus.
Speed dikatakan tinggi adalah bila mencapai kecepatan minimum 1/80”. 1/60” adalah speed notmal, dan dibawah 1/60” adalah speed lambat. Selalu ingat di kepala bahwa 1/60” adalah batas bawah kita boleh menggunakan tangan langsung untuk memotret. Dibawah ini, pikirkan untuk mencari penyangga. Entah mencari meja untuk menopang tangan, letakkan kamera di atas meja atau pakai tripod.
Sedikit saja terjadi blur pada objek yang diakibatkan speed terlalu lambat, maka hasil foto bisa dibilang gagal.

Memahami Dasar Kinerja Sebuah Kamera

Di bagian awal saya telah menceritakan bahwa memotret itu adalah seni melukis menggunakan cahaya. Cahaya yang masuk melalui lensa akan ditangkap oleh sensor yang berada di dalam bodi kamera. Tapi sebelum cahaya menyentuh sensor kamera, cahaya ini akan melalui beberapa proses yang tujuannya mengatur agar jumlah cahaya tersebut tepat ketika sampai di sensor.
Cahaya yang berlebihan akan menyebabkan sebuah foto akan terlalu terang dan cenderung berwarna putih atau disebut over exposure. Jika jumlah cahaya sangat besar, foto yang dihasilkan menjadi putih polos yang berarti foto yang dihasilkan terbakar.
Cahaya yang sangat redup akan menyebabkan sebuah foto menjadi gelap atau disebut under exposure. Tanpa cahaya sama sekali akan membuat foto menjadi hitam polos dan tidak seharusnya kita memotret karena tidak ada objek yang bisa ditangkap tanpa cahaya.
Untuk mendapatkan pencahayaan yang tepat, maka banyaknya cahaya perlu diatur agar foto yang dihasilkan menjadi sempurna secara teknis. Untuk tujuan mendapatkan pencahayaan sempurna, setiap kamera memiliki tiga komponen utama yang bertugas mengatur banyaknya cahaya yang masuk dan sampai ke sensor kamera. Tiga komponen tersebut adalah ISO, speed dan aperture (diafragma).
Tiga komponen ini akan saling bekerjasama membantu kita untuk menghasilkan foto yang baik dan sesuai dengan apa yang Kita harapkan. Melalui tiga komponen ini pula kecukupan cahaya yang

Mode Kamera

Di era digital, sangat banyak seting yang dibuat untuk tujuan kemudahan kita dalam mengambil gambar alias mode otomatis. Tetapi hasil akhir dari proses ini seringkali tidak sesuai dengan harapan. Sebab mode ini tidak bisa menentukan apakah latar belakang ingin blur, objek menjadi freeze atau pencahayaan yang sedikit dikurangi untuk mendapatkan efek dramatis.
Untuk mengakali hal yang spesifik tersebut, kita harus paham karakter sebuah kamera dan cara kerjanya. Untuk itulah disediakan mode semi dan manual penuh. Berikut kita akan mempelajari mode yang ada di sebuah kamera DSLR.

Mode Otomatis
Lihat mode dial pada kamera kita, dan kita akan melihat batas antara mode otomatis dan mode manual seperti contoh gambar mode dial di sebelah kiri (beda tipe kamera berbeda jenis menu dan lambangnya, cek buku manual).
Lambang berwarna hijau dan bertuliskan ‘auto’ (di beberapa kamera tidak ada tulisan ‘auto’ dan hanya diwakili lambang berwarna hijau), adalah mode full automatic (otomatis penuh). Di mode ini, kita menyerahkan setingan sepenuhnya kepada kamera termasuk diafragma, speed, ISO, pop-up flash, white ballance, metering, titik fokus dan semua hal-hal lainnya. Tugas kita tinggal membidik dan memotret.
Di salah satu sisi sebelah atas lambang ini, kita akan menemukan mode otomatis lainnya antara potrait, landscape, macro, sport, sunset dan night scene. Memilih satu dari seting otomatis yang ada berarti kita menyerahkan setingan terbaik kepada kamera. Sayangnya setingan terbaik untuk kamera belum tentu cocok dengan kemauan kita.
Dalam mode otomatis penuh ini, bila kondisi terlalu gelap maka kamera akan membuka pop-up flash secara otomatis agar foto yang dihasilkan cahayanya cukup. Sekali lagi sayangnya seringkali pop-up flash memberikan hasil yang terlalu keras. Objek foto terlihat tetapi suasana sekitar biasanya menjadi gelap.
Sebagai nyubi, kita mungkin memiliki pemahaman umum dimana jika memotret pada waktu malam hari, maka menggunakan mode night scene, jika ingin memotret pemandanganngan kita menggunakan mode landscape. Tetapi sebenarnya kita tidak paham apa yang sedang kamera kita lakukan untuk mendapatkan hasil. Untuk itu, kita perlu memahami cara kerja mode manual.

P (Programme)
Mari kita mulai memasuki mode manual. Meskipun mode P merupakan mode otomatis juga, namun secara umum P masuk dalam kategori manual.
Dalam mode ini kamera menyesuaikan diafragma dan speed dengan kondisi cahaya secara otomatis. Tetapi, untuk seting lainnya diserahkan kepada kita seperti white ballance, titik fokus, ISO dan lainnya. Pop-up flash tidak akan terbuka dalam kondisi apapun kecuali kita membukanya untuk memberikan bantuan pencahayaan.
Mode ini digunakan pada saat kita tidak memiliki banyak waktu dalam mengabadikan momen seperti untuk kepentingan dokumentasi dalam sebuah pesta atau untuk mengejar berita.

S/TV (Speed/Time Value)
Dalam mode ini, prioritas ditempatkan pada speed atau kecepatan rana. Kita tidak perlu memikirkan seting diafragma karena diafragma akan mengikuti secara otomatis. ISO dapat disetel secara otomatis atau manual.
Mode ini digunakan untuk objek yang bergerak secara cepat seperti kendaraan bermotor dan olahragawan. Dengan memprioritaskan speed maka hasil yang diperoleh pada objek dapat diatur menjadi freeze (membeku) atau motion blur (blur pergerakan).
Sama seperti mode P, dalam mode ini semua setingan (selain diafragma dan ISO jika sudah diatur secara otomatis) kita yang mengatur.

A/Av (Aperture/Aperture Value)
Kebalikan dari mode S/Tv, A/Av mengutamakan diafragma (aperture) sedangkan speed akan menyesuaikan. ISO juga dapat disetel secara otomatis dan manual.
Mode ini digunakan untuk mendapatkan hasil foto dengan kualitas tajam atau blur pada background/foreground (latar belakang/depan) sebuah objek agar sebuah objek menjadi dominan dalam sebuah foto.
Seperti pada mode P dan S, mode A juga mengharuskan Kita menentukan sendiri setingan tepat untuk hal lainnya.

M (Manual)
Mode ini menyerahkan semua seting kepada kita. ISO dapat disetel otomatis dan manual. Speed dan diafragma yang tepat ditentukan oleh diri kita sendiri.
Dalam beberapa kasus mode manual akan lebih membantu untuk menghasilkan gambar yang optimal. Namun untuk menggunakan mode ini diperlukan pengalaman yang cukup dalam mengoperasikan kamera. Jika sudah sering menggunakan kamera maka kita akan segera terbiasa menggunakan mode manual.

Baik otomatis maupun manual, semuanya sah-sah saja untuk digunakan. Tetapi sering menggunakan mode otomatis tidak akan membuat kita menjadi lebih pintar dalam memotret. Mode manual meskipun merepotkan, tetapi kita akan paham mengenai cara sebuah kamera bekerja dan menghasilkan foto.
Mungkin belum paham benar dengan penjelasan singkat untuk mode-mode di atas. Bagian berikutnyaakan membantu kita dalam memahami dasar kinerja sebuah kamera dan setingan seperti apa yang paling cocok untuk hasil foto yang kita inginkan.