Tampilkan postingan dengan label Pengoperasian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengoperasian. Tampilkan semua postingan

Lensa Makro

Lensa makro
Jika tertarik dengan benda-benda kecil yang memiliki tekstur menarik, atau tertarik dengan serangga mungkin lensa yang satu ini bisa jadi pertimbangan untuk dibeli, yaitu lensa makro.
Lensa makro memiliki kemampuan magnifikasi yang tinggi. Magnifikasi dilambangkan dengan angka dalam beberapa format yang sedikit membingungkan tapi intinya sama. Misalnya sebuah lensa dengan kemampuan magnifikasi 1:1, ini berarti lensa tersebut mampu menghasilkan bayangan sebuah benda sesuai dengan ukuran aslinya di dalam sensor kamera. Seekor lalat akan muncul dalam ukuran aslinya di sensor kamera. Jika lalat memiliki panjang tubuh 1cm dan lebar 0.5cm, maka lalat tersebut akan muncul bayangannya di sensor dengan ukuran panjang 1cm dan lebar 0.5cm. Ini disebut dengan life size.
Foto serangga menggunakan
lensa makro
Karena kemampuan magnifikasi lensa tersebut 1:1 maka lensa tersebut mampu menampilkan ukuran asli lalat di sensor kamera. Jika kemampuan magnifikasi lensa adalah 1:2, maka lensa tersebut hanya mampu menampilkan ukuran 0.5 atau 1/2 dari ukuran aslinya. Jika kita mengambil contoh yang sama yaitu lalat tadi, dengan menggunakan lensa dengan kemampuan magnifikasi 1:2, maka bayangan lalat tersebut akan muncul di sensor dengan ukuran panjang 0.5cm dan lebar 0.25cm. 
Sebuah lensa dikatakan memiliki kemampuan makro jika memiliki kemampuan magnifikasi minimal 1:2. Dan lensa makro yang baik umumnya adalah lensa makro yang focal length-nya fix. Saat ini lensa makro dengan kemampuan magnifikasi terbesar dimiliki oleh merk Canon, yaitu lensa Canon MP-E65mm dengan kemampuan magnifikasi 5:1. Artinya, lensa tersebut mampu memperbesar 5x ukuran asli seekor semut. Wow!
Perbandingan bayangan lalat
di sensor kamera
- klik gambar untuk memperbesar
Di sebelah adalah ilustrasi perbandingan ukuran lalat yang akan tertangkap dalam sensor kamera antara magnifikasi 1:1, 1:2 dan 5:1. Pada magnifikasi 5:1 tidak seluruh tubuh lalat yang mampu ditangkap sensor, tetapi hanya bagian tertentu saja karena pembesarannya 5x dari normal. Tetapi detail bagian tersebut akan tertangkap dengan baik.
Ada keuntungan tersendiri jika membeli lensa makro, yaitu jika kita memotret benda-benda kecil kita bisa mendapatkan detail dari benda tersebut bahkan lebih dalam. Lensa tanpa kemampuan makro memiliki jarak fokus minimum 20-30cm. Sedangkan lensa makro memiliki jarak fokus minimum sampai dengan 10cm bahkan lebih dekat. Hal ini memberikan keleluasaan bagi fotografer dalam memotret misalnya makanan karena akan mendapatkan detail tekstur makanan tersebut.

Mengenal Fisik Lensa

Kebanyakan orang khususnya fotografer sudah dan dapat mengerti dengan mudah mengenai penggolongan lensa baik wide dan tele ataupun fix dan zoom. Tapi Apakah mereka sudah mengerti apa saja yang terdapat di dalam lensa yang dimiliki? Mari kita bahas satu persatu

Focal Length
Kita sudah membahas focal length, yaitu jarak antara bagian pusat lensa dengan titik fokus dan memiliki satuan milimeter (mm). Setiap lensa pasti memiliki fl yang merupakan identitas utama dari sebuah lensa.
Jika lensa Anda 85mm maka jarak antar pusat lensa dengan titik fokus adalah 85mm. Jika focal length yang tertulis adalah 100mm, maka lensa tersebut merupakan lensa fix. Sedangkan jika yang tertulis adalah 24-105mm, maka lensa tersebut merupakan lensa zoom yang mampu bergerak dari 24mm sampai 105mm.

Diafragma
Setiap lensa memiliki diafragma yang berbeda-beda dan seperti focal length, diafragma pada sebuah lensa juga ada yang fix dan ada yang non-fix (bukan 'zoom' namanya :p) dan khusus yang non fix pasti terdapat di lensa zoom. Sedangkan diafragma yang fix pasti terdapat di lensa fix dan sebagian lensa zoom. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak contoh berikut.
Kita ambil contoh lensa fix yaitu lensa 50mm f/1.4. Dari kode tersebut, maka kita bisa tau bahwa diafragma terbesar yang dimiliki lensa tersebut adalah f/1.4, sedangkan diafragma terkecil biasanya tidak dicantumkan pada kode lensa. diafragma tersebut fix karena lensanya juga fix
Contoh kedua dalah lensa 18-55mm f/3.5-5.6. Ini berarti, ketika kita menggunakan lensa tersebut pada fl 18mm, diafragma terbesar yang dapat digunakan adalah f/3.5, tetapi, ketika kita melakukan zoom ke 55mm maka diafragma terbesar yang dapat digunakan adalah f/5.6. Bisa kita lihat pada angka diafragma di kamera kita jika kita melakukan zoom pada lensa maka secara otomatis angka diafragma juga akan menyesuaikan. Pergeseran angka diafragma pada lensa seperti ini juga berlaku untuk diafragma terkecil lensa, misalnya dari yang semula di fl 18mm diafragma terkecilnya adalah f/22, maka di fl 55mm diafragma terkecilnya bergeser ke f/32.
Contoh ketiga adalah lensa 12-24mm f/4 yang tentu saja berarti diafragma lensa tersebut adalah fix meskipun lensanya adalah lensa zoom. Di fl 12mm diafragma terbesar yang dapat digunakan adalah f/4 dan di fl 24mm diafragma terbesar yang dapat digunakan adalah juga f/4. Lensa-lensa dengan diafragma yang fix umumnya memiliki harga yang lebih mahal daripada lensa-lensa dengan diafragma yang non fix.

Autofocus & Manual Focus
Jaman dahulu semua lensa memiliki fokus manual, dengan kata lain sang fotografer harus lihai membidik objek dan menggerakkan jarinya di sekitar lensa untuk melakukan proses fokus secara manual. Saat ini hampir semua lensa memiliki fasilitas autofocus atau dapat melakukan fokus secara otomatis. Cukup dengan menekan tombol shutter 1/2.
Tapi apakah setiap saat autofocus diperlukan? Jawabnya hampir! Tetapi tidak semua, dalam beberapa kasus autofocus tidak lebih bisa diandalkan dibandingkan fokus manual. Misalnya untuk pemotretan makro dan penggunaan teknik hyperfocal pada pemotretan landscape.
Untuk itu, saat ini hampir setiap lensa yang memiliki fasilitas autofocus juga dapat disetel secara manual focus. Dan untuk beberapa lensa papan atas memiliki fasilitas full manual focus yang berarti meskipun telah dilakukan autofocus, tetapi kita tetap dapat memutar ring fokus untuk mendapatkan hasil sempurna tanpa harus merubah seting lensa ke manual focus.
Catatan, pada merk dan tipe tertentu, pengaturan fokus terdapat di bodi kamera

Focus Distance
Sangat mudah dipahami dan diartikan tapi percaya atau tidak yang satu ini sangat jarang diperhatikan, apalagi untuk fotografer nyubi. Focus distance merupakan jarak antara fotografer dengan objek yang diputuskan berada di titik fokus pada saat kita menekan tombol shutter 1/2 sampai terdengar bunyi ‘tidit’. Satuan jarak yang terdapat di lensa umumnya dalam meter (m) dan kaki (feet/ft).
Pada beberapa lensa tidak terdapat angka yang mencantumkan jarak tersebut. Jarak ini menjadi penting jika kita menggunakan teknik hyperfocal pada pemotretan landscape.

Focus Distance Limiter
Saat kita sudah mahir melakukan fokus khususnya secara manual, kita akan lebih mudah memahami jarak objek yang akan difokuskan. Dengan demikian kita juga akan lebih pandai memperkirakan jarak fokus dari objek yang ada di hadapan kita. Pada saat itulah fasilitas focus distance limiter menjadi penting untuk membantu kita. Fasilitas ini bertujuan mempersingkat fokus dengan cara membatasi jarak yang akan difokus oleh lensa kita
Sebagai contoh kita memilih focus limiter di 0.3-0.5m, ini berarti autofocus akan melakukan fokus terhadap objek yang berada pada jarak 0.3-0.5m saja. Di luar jarak itu lensa tidak akan melakukan fokus karena telah dibatasi jarak fokusnya. Jika kita sudah mengetahui jarak kita dengan objek tidak akan sampai melebihi 0.5m, maka fasilitas ini sebaiknya dinyalakan. Sebab lensa tidak akan membuang waktu untuk mencari objek yang posisinya lebih jauh dari 0.5m.
Umumnya fasilitas ini terdapat di lensa-lensa tele dan lensa makro.

Stabilizer
Teknologi semakin berkembang dan fotografer semakin dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas mutakhir seperti stabilizer. Fasilitas ini mampu meredam getaran atau goncangan yang diakibatkan oleh tangan kita ketika memotret akibat menggunakan speed yang rendah seperti 1/30” dan 1/15”.
Fasilitas ini mampu mengkompensasi getaran 3 - 4 stop dari normal. Misalnya kita terbiasa memotret di speed yang minimal 1/60”, dengan fasilitas ini kita dapat menurunkan speed hingga 1/15” jika keadaan memaksa untuk melakukannya. Tapi jangan khawatir hasilnya tidak fokus karena stabilizer akan membantu.
Fasilitas ini memiliki nama yang berbeda-beda di setiap merk. Sebagai contoh, Nikon menamakannya VR (Vibration Reduction), Canon menamakannya IS (Image Stabilizer), Tamron menamakannya VC (Vibration Compensation). Setiap istilah tersebut memiliki maksud yang sama.
Fasilitas ini sangat baik untuk membantu meredam getaran tangan, tetapi dalam kondisi tanpa getaran seperti menggunakan tripod atau meletakkan kamera di tas meja, stabilizer tidak dapat memberikan hasil terbaik. Oleh karena itu, matikan stabilizer jika menggunakan tripod atau meletakkan kamera di atas meja.

Magnifikasi (warna kuning)
Magnification
Magnifikasi saya definisikan sebagai kemampuan lensa untuk dapat melakukan fokus terhadap benda-benda khususnya yang berukuran kecil. Tidak semua lensa ‘mencatatkan’ kemampuan magnifikasinya. Umumnya lensa makro yang memberikan informasi tentang magnifikasi
Kemampuan magnifikasi setiap lensa makro umumnya terbagi dua, yaitu 1:1 atau 1:2 yang berarti lensa itu dapat memotret sesuai dengan ukuran aslinya (1:1) atau setengah dari ukuran aslinya (1:2) di dalam sensor kamera. Lebih lanjut kita bahas di bagian ‘lensa makro’.

Lens Hood
Lens hood adalah sebuah alat yang berfungsi mengurangi biasan cahaya yang liar yang masuk ke lensa. Dengan adanya lenshood, gambar akan menjadi lebih jernih jika sinar dari luar terlalu keras. Tidak semua lensa mendapatkan alat ini pada saat pembeliannya. Lensa premium umumnya sudah dilengkapi dengan alat ini.

Tripod Collar
lenshood & tripod collar
Sebuah alat yang di pasang di badan lensa, umumnya lensa tele. Alat ini digunakan sebagai tumpuan ketika kamera dengan lensa tele (yang berat) dipasang di atas tripod.
Dengan menggunakan tripod collar, pondasi kamera lebih kuat dan stabil. Jika menggunakan lensa tele dan menggunakan tripod mounting di bawah bodi kamera, dengan ukuran lensa yang besar dan berat maka beban dapat bertumpu pada mounting lensa di bodi dan menyebabkan kerusakan. Gunakan tripod collar untuk menopang kamera jika menggunakan lensa tele berukuran besar.

Penggolongan Lensa - Fix VS Zoom

Dilihat dari pergerakan fl-nya, lensa dibagi menjadi lensa fix dan lensa zoom. Lensa fix berarti fl yang dimiliki lensa tersebut adalah tetap dan tidak dapat berubah. contohnya adalah lensa 50mm, 100mm dan lainnya. Sedangkan lensa yang fl-nya dapat berubah disebut dengan lensa zoom, contohnya 17-40mm, 18-55mm dan lainnya.
Lensa fix
Masing-masing jenis lensa memiliki keunggulan dan kekurangan. Lensa fix yang memiliki focal length yang tetap membuatnya kurang fleksibel bagi fotografer untuk memotret objek yang bergerak. Fotografer harus menyesuaikan posisinya untuk mendapatkan komposisi yang baik, yaitu dengan cara maju mundur. Sehingga jenis lensa ini kurang nyaman untuk memotret event, pesta, jurnalistik dan lainnya. Meskipun demikian, lensa fix memiliki kualitas hasil gambar yang sangat baik.
Lensa Zoom
Berbeda dengan lensa fix, lensa zoom memberikan kenyamanan dalam memotret karena kemampuan zoom in dan zoom outnya yang fleksibel. Fotografer tidak perlu repot-repot maju dan mundur untuk menyesuaikan jaraknya dengan objek. Tetapi lensa zoom memiliki konstruksi bagian dalam yang lebih rumit karena terdapat lebih banyak lensa dan komponen bergeraknya. Sehingga secara umum kualitas hasil gambar lensa zoom sedikit berada di bawah lensa fix.

Penggolongan Lensa - Wide VS Tele

Dalam setiap lensa terdapat jarak antara bagian pusat lensa dengan titik fokus yang disebut dengan focal length (fl) dan memiliki satuan milimeter (mm). Titik fokus disini adalah tempat jatuhnya bayangan pada sensor kamera. Semakin dekat jarak lensa dengan titik fokus, semakin lebar sudut pandangnya. Semakin jauh jarak lensa dengan titik fokusnya, semakin sempit sudut pandanganya tetapi semakin besar pembesaran objeknya.
Lensa yang termasuk dalam kategori wide adalah lensa dengan fl sama dengan atau dibawah 24mm. Karena sudut pandangnya luas, lensa jenis ini seringkali memberikan efek distorsi terhadap hasil gambarnya. Sehingga gedung atau tiang yang menjulang tinggi menjadi tampak melengkung karena efek ini. Dalam beberapa kasus hal ini menarik, namun tidak jarang fotografer tidak menginginkan efek ini.
Lensa 35mm-50mm masuk kategori normal lens. Lensa 50mm memiliki sudut pandang yang mirip dengan mata manusia. Di atas 50mm, dimulai dari 85mm-135mm sudah termasuk kategori tele lens dan di atas 135mm masuk kategori super-tele lens.
Pada ilustrasi berikut memperlihatkan perbandingan sudut pandang secara kasar antara focal length yang dimiliki oleh lensa. Sudut pandang ini dipengaruhi juga oleh besarnya penampang sensor pada kamera. Kamera dengan sensor fullframe akan memiliki sudut pandang yang normal dimiliki oleh fl lensa. Tetapi untuk sensor APS-C terjadi peng-crop-an gambar sebesar 1.5x dari fl. Pembahasan lebih lanjut mengenai efek dari hal ini akan dilanjutkan pada bagian sensor kamera.

Mengenal Lensa

Setelah mengetahui cukup tentang bodi kamera, mari kita lanjutkan untuk mengenal lensa. Lensa lebih memiliki peran penting untuk mendapatkan hasil foto yang baik dibandingkan dengan bodi kamera. Maka jika memiliki dana cukup banyak, saya lebih cenderung untuk memberikan porsi yang besar pada investasi lensa. Tetapi pertanyaannya, lensa yang seperti apa yang perlu dibeli?
Memilih sebuah lensa untuk dibeli sangat erat kaitannya dengan fotografi seperti apa yang kita inginkan. Jika masih menjadi fotografer nyubi, saya sudah bahas sebelumnya untuk membeli bodi kamera plus lensa kit. Dengan lensa kit, seorang fotografer nyubi bisa belajar sambil memahami bidang fotografi yang diinginkan pada akhirnya. Jika belum paham fotografi seperti apa yang diinginkan, membeli lensa bisa jadi hanya membuang-buang uang karena pada akhirnya lensa tersebut tidak banyak digunakan atau sama sekali tidak digunakan. Jadi pastikan sebelum membeli lensa, kita paham benar kenapa kita memilih lensa tersebut.
Berbagai macam lensa
Sebagai contoh, jika kita suka memotret pemandangan atau landscape, biasanya kita akan memilih untuk membeli lensa dengan sudut pandang yang lebar atau biasa disebut wide angle lens. Jika kita suka memotret model atau close up, lensa dengan seudut sempit atau medium tele lens akan menjadi pilihan. Jika kita suka memotret sport seperti pemain sepakbola atau balapan mobil kita akan memilih tele/super-tele lens yang dapat menjangkau objek dari posisi yang sangat jauh. Yang mana yang paling bagus? Tergantung kita mau memotret apa.
Artikel-artikel berikutnya akan membahas lensa lebih dalam lagi agar kita dapat mengetahui bersama seluk beluk mengenai lensa.

Sumber foto: http://www.letsgodigital.org/html/review/nikon/d2xs/slr.html

Metering

Kembali ke proses metering, metering sendiri terdiri dari beberapa metode yaitu evaluative, center wighted dan spot. Ketiga metode metering tersebut yang paling umum ada di kamera dan ada beberapa kamera yang memiliki tipe metering tambahan lainnya. Penamaan metering tersebut bisa berbeda di setiap merk kamera tetapi prinsipnya sama.
Evaluative Metering
Eveluative Metering, yaitu pengukuran terhadap jumlah cahaya di seluruh bagian dari apa yang kita lihat dari viewfinder. Area pengukuran mencakup 100% dari apa yang dilihat. Metode ini paling sering digunakan untuk memotret dalam kondisi normal dimana seluruh bagian dari viewfinder akan diukur dan diambil rata-rata pencahayaannya.
Center-weighted average metering
Center Wighted Average Metering, yaitu pengukuran terhadap jumlah cahaya di bagian tengah viewfinder. Area pengukuran mencakup 40% dari apa yang Anda lihat. Metode ini digunakan pada saat cahaya yang datang berasal dari belakang objek dan jauh lebih terang dari objeknya.
Jika demikian, seringkali pada hasil foto, objek yang ada menjadi backlite atau gelap dan tidak terlihat. Dengan menggunakan center weighted, kamera akan mengukur di bagian tengah saja, atau di objek saja, dan akan mengukur kombinasi yang pas agar objek yang berada di area center wighted menjadi normal.
Spot metering
Spot Metering, yaitu pengukuran terhadap jumlah cahaya yang berada hanya di tengah/titik fokus. Area pengukuran mencakup 2.3% dari apa yang dilihat. Sering digunakan jika cahaya yang ada sangat kontras dengan objek yang dibidik serta bidang objek yang cukup kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan viewfinder. Jika objek yang dibidik porsinya dalam viewfinder hanya sedikit, sebaiknya menggunakan spot metering agar bagian yang diinginkan menjadi terang.
Kamera DSLR di desain untuk menghasilkan gambar yang sangat baik dan untuk memperolehnya seting otomatis seringkali bukan menjadi pilihan yang baik. Memang akan merepotkan karena kita harus merubah setingan setiap kali hendak memotret, tapi semakin sering membiasakan diri semakin cepat dan mahir pula kita mengoperasikannya.
Contoh kasus menggunakan
spot metering
- klik gambar untuk memperbesar
Contoh kasus
Masih bingung? Coba lihat contoh foto di sebelah kiri. Pada foto tersebut, seorang model berada di ruangan yang cukup gelap dan memiliki sedikit lubang di bagian atap bangunan sehingga sinar matahari masuk dan menyinari sebagian tubuh model. Bisa dilihat sekeliling model berada dalam kondisi gelap dan sebagian wajah dan tubuhnya terang karena terkena sinar matahari. Kondisi tersebut sangat kontras dimana sebagian dari foto tampak sangat terang dan bagian lainnya sangat gelap. Jika demikian, gunakan spot metering dan ukur pada tempat yang ingin pencahayaannya menjadi normal. Dalam contoh foto tersebut, saya mengukurnya di mata sebelah kiri model sehingga didapat pada bagian tersebut kondisi pencahayaannya normal.
Lalu apakah bisa mendapatkan kondisi pencahayaan yang normal untuk seluruh bagian foto tersebut? Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Sekali lagi kita bisa melihat kondisi sekelilingnya gelap, dan di beberapa bagian tubuh model terang bahkan sangat terang sehingga cenderung over exposure seperti di bagian pipi kiri. Pencahayaan ini sangat kontras, sehingga jika kita buat sekelilingnya menjadi normal, maka pada bagian pipi dan pundak model akan menjadi over exposure. Dan jika kita buat pipi menjadi normal, maka sekeliling model menjadi gelap atau under exposure. Bahkan latar belakang pun tidak bisa terihat.

Lightmeter

Ketika mengkombinasikan ISO, speed, dan diafragma, mungkin belum terbayang di kepala kita apakah kombinasi tersebut akan menghasilkan gambar sesuai dengan keinginan kita, atau jangan-jangan malah terlalu gelap atau terang. Itulah fungsi dari lightmeter, yaitu alat untuk mengukur tingkat pencahayaan yang akan terekam di foto yang akan diambil. Lightmeter akan memberi tau kita apakah foto yang akan dihasilkan cukup terang atau terlalu gelap atau terlalu terang dengan menggunakan kombinasi ISO, speed dan diafragma yang kita pilih. Proses mengukur cahaya ini disebut dengan metering.
Jadi pastikan setelah melakukan kombinasi terhadap ketiga komponen tersebut, sempatkan mata untuk melirik lightmeter. Jika posisinya sudah sesuai yang Anda inginkan, shoot! Berikut adalah contoh wujud dari lightmeter yang ada di dalam viewfiner (beda tipe kamera beda tampilannya).
Panel lightmeter (berwarna kuning)
- klik gambar untuk memperbesar
Pada gambar panel di samping, lightmeter menunjukkan posisi normal. Ini berati jumlah cahaya yang masuk ke dalam sensor jumlahnya cukup. Jika posisi jarum berada di -1, maka kita sebut dengan under 1 stop dan berarti cahaya yang masuk jumlahnya dibawah normal. Dan sebaliknya jika posisi jarum berada di +1, maka kita sebutnya dengan over 1 stop.
Foto sunset dengan
exposure -1
Tidak semua foto harus harus dieksekusi pada saat lightmeter menunjukkan posisi pencahayaan normal. Dalam beberapa situasi adakalanya lightmeter minus satu akan memberikan hasil foto yang lebih baik, contohnya pada saat sunset disamping. Hal ini juga berlaku untuk kondisi pada saat sunrise.
Dalam beberapa kondisi lightmeter bisa diabaikan, seperti jika kita menggunakan lampu flash. Jika lampu flash diarahkan tidak ke depan (langsung ke objek) atau dipantulkan melalui sisi dinding ruangan, hasil yang dibaca oleh lightmeter berbeda dengan hasil foto. Sebab lightmeter di kamera hanya membaca kondisi cahaya yang ada (tanpa lampu flash). Pada saat kondisi seperti ini, kita harus mencoba setelan yang paling pas dan melihat hasilnya langsung di kamera (trial eror).

Aktifitas Speed & Diafragma

Ingin melihat aktifitas speed dan diafragma di dalam kamera dalam sebuah video tayangan lambat? Cek video yang saya ambil dari youtube di bawah ini:
Pada video di atas, sebelah kiri adalah diafragma dengan bukaan f/16 (perhatikan diameter yang terbuka sangat kecil karena angka f-nya besar yaitu 16) dan sebelah kanan adalah shutter speed (dibalik cermin) yang bergerak dari atas ke bawah hanya dalam waktu 1/4000". Kamera yang digunakan adalah Nikon D3 dengan lensa 50mm f/1.4 dan menggunakan continuous shooting dengan kecepatan 11fps (frame per second). Artinya, dalam waktu 1 detik kamera tersebut mengambil 11 buah foto, diafragmanya 11 kali terbuka dan tertutup dan speednya 11 kali bergerak dengan kecepatan 1/4000". Luar biasa bukan? :)

Diafragma / Aperture

Diafragma disebut juga dengan Aperture. Orang kita juga sering menyebutnya sebagai ‘bukaan’. Diafragma dilambangkan dangan huruf ‘f’ (baca: ef). Jadi diafragma, aperture, bukaan dan ‘f’ memiliki arti yang sama. Untuk selanjutnya saya akan menggunakan kata diafragma karena di negara kita lebih umum dengan sebutan diafragma ketimbang aperture.
Diafragma terdapat di dalam lensa dan tersusun dari beberapa buah bilah yang tersusun sedemikian rupa sehingga bisa terbuka lebar atau sempit. Tugas dari diafragma dalah mengatur besaran cahaya yang dapat masuk ke dalam sensor kamera. Kalau kita berada dalam kamar, diafragma ibarat tirai di jendela kamar kita, semakin lebar terbukanya semakin banyak cahaya yang masuk.
Besar kecilnya diafragma diwakili oleh angka-angka yang besarannya menurut saya tidak beraturan atau tidak konsisten. Contohnya: f/1.8, f/2.0, f/2.8, f/3.5, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22 dan seterusnya. Semakin kecil angka diafragma, semakin besar bukaan diafragma. Sebaliknya, semakin besar angka diafragma, semakin kecil bukaannya seperti dalam ilustrasi berikut.
Penampang diafragma

Pada awal memotret biasanya setiap nyubi seringkali terbalik-balik dalam menyimpulkan diafragma yang dipakainya apakah diafragma kecil atau besar.
Saya pribadi sering menggunakan istilah ‘diafragma besar’ untuk mewakili diafragma yang memiliki angka kecil. Jadi jika saya mengatakan “gunakan diafragma besar”, maka gunakan angka terkecil yang dimiliki oleh lensa. Dan sebaliknya, ‘diafragma kecil’ buat saya berarti angka diafragmanya besar seperti f/16 atau f/22.
Gambar di sebelah kanan adalah panel informasi mengenai diafragma. Angka diafragma tidak lebih dari dua digit dan angkanya tidak memiliki konsistensi dalam hal kelipatannya. Jadi seharusnya mudah menghapal di panel informasi mana yang merupakan seting diafragma.
Besar kecilnya diafragma erat kaitannya dengan ruang tajam atau ruang dimana semua benda yang ada di dalam rentang jarak ruangan tersebut berada dalam kondisi fokus. Ruang tajam dalam bahasa asing disebut depth of field (DOF). Semakin besar diafragma (angka kecil), semakin sempit ruang tajamnya dan sebaliknya, semakin kecil diafragmanya semakin lebar ruang tajamnya. Ilustrasi ruang tajam dapat dilihat di gambar di bawah ini.
Ruang tajam/depth of field (DOF), warna putih merupakan daerah yang tajam dan
warna hitam adalah ruang yang tidak fokus (kiri).
pergeseran jarak objek merubah posisi ruang tajam (kanan)
Objek yang berada di ruangan berwarna putih akan berada dalam kondisi fokus, dan semua yang berada di daerah berwarna gelap kondisinya tidak fokus atau blur. Semakin gelap, semakin tidak fokus/blur.
Dapat dilihat lebarnya ruang tajam yang dimiliki oleh f/16 (bagian berwarna putih) dibandingkan dengan f/2.8. Jika fokus di arahkan pada objek yang jaraknya berada lebih dekat dengan fotografer/kamera, maka hal ini akan merubah posisi ruang tajam seperti yang terdapat di ilustrasi sebelah kanan. Semakin kita dekat dengan objek, dan semakin jauh latar belakang dengan objek akan menyebabkan segala sesuatu di belakang objek semakin tidak fokus/blur.
Sekarang kita sudah paham mengenai ruang tajam. Diafragma besar menghasilkan ruang tajam yang sempit dan sebaliknya, diafragma kecil menghasilkan ruang tajam yang besar. Dengan menggunakan diafragma besar kita dapat menghasilkan foto dengan latar depan dan belakang yang blur, sedangkan menggunakan diafragma kecil kita dapat menghasilkan foto dengan semua elemen yang ada menjadi tajam. Hasil foto perbandingan diafragma besar dengan diafragma kecil tampak dalam foto-foto berikut.
Perbandingan diafragma f/2.8 (kiri) dan f/13 (kanan)
- klik pada gambar untuk memperbesar
Diafragma juga memberikan efek terhadap sinar lampu pada malam hari. Diafragma besar akan memberikan efek membulat sedangkan diafragma membuat pendaran lampu menjadi lebih runcing seperti bintang. Cobalah memotret lampu jalan pada malam hari menggunakan diafragma yang berbeda dan lihat hasilnya.
Satu hal lagi, tidak semua lensa memiliki kemampuan diafragma yang sama. Semakin besar diafragma yang dimiliki sebuah lensa, biasanya harganya semakin mahal.

Shutter Speed

Di dalam bodi kamera terdapat alat yang bertugas mengatur lamanya cahaya masuk ke dalam sensor. Alat itu disebut shutter speed atau dalam bahasa Indonesia disebut kecepatan rana dan lebih sering disebut dengan speed.
Speed dapat diatur lama terbukanya. Untuk kamera DSLR umumnya dapat disetel dari mulai speed paling lambat yaitu 30” (detik) sampai dengan yang paling cepat 1/4000” tergantung tipe kamera. Kamera DSLR profesional bisa sampai 1/8000” atau 1/12000”. Bisa membayangkan 1/12000” cepatnya seperti apa?
Pengaturan speed berguna agar cahaya yang masuk ke dalam sensor tidak berlebihan (jika terlalu lama terbuka) sehingga over exposure dan tidak pula kekurangan (terlalu cepat terbuka) atau under exposure.
Gambar di sebelah kiri adalah informasi speed yang terdapat di panel kamera. Angka 400, berarti speed yang digunakan adalah 1/400”. Sedangkan jika angka yang tertera adalah 4”, berarti speed yang digunakan adalah 4 detik. Jika yang tertera adalah 3”2, berarti speed yang digunakan adala 3,2 detik. Cukup mudah kan menghapalnya?
Dalam kondisi pemotretan normal menggunakan tangan (handheld), speed yang umum digunakan adalah 1/60”. 1/60” merupakan kecepatan yang normal untuk mengambil momen-momen yang pergerakannya juga normal seperti aktifitas manusia sehari-hari. Dibawah 1/60”, kita harus mewaspadai pergerakan tangan kita yang mungkin akan mempengaruhi hasil foto dikarenakan tangan kita yang tidak mungkin 100% diam.
Speed memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil foto. Semakin cepat speed, semakin freeze (membeku) foto yang dihasilkan. Dan sebaliknya, jika speed lambat akan mengakibatkan foto menjadi blur. Objek yang bergerak memerlukan speed yang cukup untuk ‘mengunci’-nya agar tidak blur pada saat difotonya. Jika memotret objek bergerak, saatnya menggunakan mode S/Tv dan menyerahkan seting diafragma kepada kamera agar hasil foto tidak blur karena pergerakan objek. Dibawah adalah contoh perbandingan foto yang menggunakan speed berbeda.
Speed tinggi 1/1250" (kiri) dan speed lambat 1/40" (kanan)
- klik gambar untuk memperbesar
Foto di atas adalah contoh memotret objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi (kiri). Seting foto tersebut menggunakan speed 1/1250”. Ketika melintas, sepeda motor tersebut saya perkirakan memiliki kecepatan 50km/jam. Dengan menggunakan speed tinggi, saya dapat menangkap momen secara detail dan seolah membeku. Dapat dilihat percikan air yang menyembur dari bagian belakang sepeda motor, latar belakang yang sangat jelas, dan jari-jari roda sepeda motor yang dapat terlihat dengan jelas seolah sepeda motor tersebut sedang diam.
Terkadang untuk memotret objek bergerak cepat kita ingin mendapatkan efek kecepatan dari sang objek. Jika foto di sebelah kiri objeknya tampak diam membeku, kita bisa juga memotretnya dengan cara yang berbeda untuk mendapatkan efek ‘ngebut’ dengan menggunakan speed lambat. Kegiatan ini disebut dengan panning, seperti yang ada di foto sebelah kanan.
Pada foto sebelah kanan, bisa dilihat bagian latar belakang dari motor ini tampak blur karena pergerakan dan jari-jari roda motor tidak terlihat karena sedang berputar. Ini dikarenakan foto tersebut diambil menggunakan speed lambat, yaitu 1/40”. Ketika motor melaju dengan kecepatan tinggi, waktu 1/40” merupakan waktu yang cukup lambat sehingga laju motor dapat terekam pergerakannya selama 1/40”.
Untuk mendapatkan efek ini, kita harus fokus di objek lalu menekan tombol shutter sambil menggerakkan kamera searah dengan objek. Dengan cara tersebut kita dapat memperoleh foto dengan objek yang fokus namun dengan latar belakang blur yang membuat objek tampak sedang melaju kencang. Lain halnya jika saya menggunakan speed tinggi seperti di foto sebelah kiri, laju motor tidak sempat terekam dan tampak diam karena speed yang digunakan begitu tinggi yaitu 1/1250”. Baik speed cepat maupun lambat, keduanya sering digunakan karena memberikan efek positif yang berbeda seperti pada dua foto berikut.
Foto dengan speed tinggi (kiri) dan speed lambat (kanan)
- klik gambar untuk memperbesar
Hal yang perlu diketahui adalah, ketika menggunakan speed tinggi kita tidak perlu khawatir untuk memotret menggunakan tangan. Speed yang begitu tinggi tidak akan menangkap pergerakan tangan kita yang goyang setiap saat. Tapi sebaliknya, jika kondisi mengharuskan menggunakan speed lambat seperti pada foto spion mobil di atas, kita perlu menyangga kamera di tempat yang solid atau gunakan tripod. Tanpa penyangga, jangan harap akan mendapatkan hasil yang bagus.
Speed dikatakan tinggi adalah bila mencapai kecepatan minimum 1/80”. 1/60” adalah speed notmal, dan dibawah 1/60” adalah speed lambat. Selalu ingat di kepala bahwa 1/60” adalah batas bawah kita boleh menggunakan tangan langsung untuk memotret. Dibawah ini, pikirkan untuk mencari penyangga. Entah mencari meja untuk menopang tangan, letakkan kamera di atas meja atau pakai tripod.
Sedikit saja terjadi blur pada objek yang diakibatkan speed terlalu lambat, maka hasil foto bisa dibilang gagal.

ISO (International Organization for Standardization)

Jika dahulu kita pernah mendengar kata ASA, maka sekarang istilah tersebut sudah jarang digunakan. Istilah ASA (American Standard Association) saat ini telah diganti dengan ISO. ASA digunakan pada era analog dan ISO digunakan di era digital. Mekipun istilahnya berubah, intinya tetap sama.
ISO adalah satuan untuk mengukur tingkat sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya, semakin tinggi angkanya, semakin sensitif sensornya. Di era analog yang menggunakan film sebagai media perekam gambar juga memiliki tingkat sensitifitas yang ditandai dengan satuan ASA. Semakin tinggi ASA, maka film yang digunakan akan menjadi semakin sensitif. Sedikit saja cahaya mengenai permukaan film maka film akan lebih cepat merekam cahaya tersebut dibandingkan film dengan ASA lebih rendah.
ISO memiliki satuan angka yang sama. Pada umumnya angka yang sering digunakan adalah ISO100, ISO200, ISO400, ISO800, ISO1600, ISO3200 dan seterusnya. Di era digital saat ini ISO sudah bisa di ekspansi lebih jauh menjadi ISO125, ISO160, ISO250, ISO320, ISO640 yang merupakan expansi diantara angka ISO yang sudah ada.
ISO memiliki angka numerik yang khas, biasanya kelipatan 100, jadi jangan sampai keliru antara ISO dengan seting yang lain pada saat membaca panel. Gambar di sebelah kanan berikut adalah contoh ISO yang ada di LCD panel kamera (perhatikan angka berwarna hitam).
Jangan lupa bahwa ISO pada kamera-kamera keluaran terbaru juga sudah bisa diekspansi ke angka yang bukan lagi kelipatan 100 seperti yang baru saja saya katakan.
ISO rendah (ISO100, ISO200) digunakan pada saat pencahayaan yang ada jumlahnya cukup, misalnya pada saat siang hari dan di luar ruangan. Sedangkan ISO tinggi (ISO400 ke atas) digunakan pada saat pencahayaan redup seperti pada saat malam hari atau di dalam ruangan.
Jaman dahulu, film dengan ASA tinggi harganya sangat mahal. Sehingga jika kita melihat orang membawa film dengan ASA tinggi (>1600), bisa dipastikan orang tersebut ber-‘duit’. Tapi saat ini kita tinggal mengaturnya di bodi kamera tanpa harus mengeluarkan ‘duit’. Amin!
Mengapa ISO rendah digunakan pada saat jumlah cahaya cukup? Dan mengapa ISO tinggi digunakan di keadaan yang sebaliknya? Semakin tinggi ISO semakin sensitif sensornya terhadap cahaya. Di siang hari dimana cahaya matahari sangat kuat, kita tidak memerlukan sensor yang sensitif karena cahaya matahari cukup banyak dan berlimpah serta mampu memberikan cahaya kepada ISO rendah.
Tapi berbeda situasinya jika kita berada di ruangan redup seperti di dalam kafe atau restoran dimana pada umumnya di tempat tersebut cahayanya redup karena ingin menciptakan nuansa romantis. Pada saat seperti itu kita memerlukan sensor dalam keadaan sensitif terhadap cahaya sehingga cahaya redup dapat direkam dengan baik, oleh karena itu kita memerlukan ISO yang lebih tinggi.
Jika menggunakan ISO tinggi pada saat di luar ruangan, maka foto-foto yang dihasilkan sangat mudah terbakar. Sebaliknya jika menggunakan ISO rendah di dalam ruangan, kebanyakan foto menjadi gelap. Kita harus menggunakan setingan ISO yang paling cocok untuk kondisi cahaya dimana kita berada.
Penggunaan seting ISO yang berbeda memberikan efek terhadap hasil foto yang didapatkan. Sayangnya, perbedaan tersebut cenderung memberikan efek yang tidak baik terhadap sebuah foto. ISO yang tinggi menyebabkan sensor kamera menjadi cepat panas dan karenanya hasil foto yang menggunakan ISO tinggi kerap memiliki apa yang disebut dengan grainy atau noise.
Grainy atau noise adalah efek yang diberikan kamera dengan seting ISO tinggi berupa sebentuk kotoran menyerupai debu yang menyelubungi seluruh bagian foto. Semakin tinggi seting ISO, semakin mudah hasil foto terkena efek grainy. Berikut adalah perbandingan hasil foto yang menggunakan ISO rendah dan ISO tinggi.
Perbedaan ISO100 (rendah) dengan ISO 12800 (tinggi)
- klik pada gambar untuk memperbesar
Kedua foto di sebelah kiri merupakan foto yang identik. Sebelah kiri adalah foto yang menggunakan ISO100, kemudian dengan posisi yang sama seting dirubah ke ISO12800 dan menghasilkan gambar sebelah kanan. Lihat bedanya? Jika diperhatikan lebih dalam, foto sebelah kanan memiliki tekstur yang lebih kasar. Bisa dilihat dari warna putih keabu-abuan di bagian kanan atas di setiap foto.
Dalam kondisi melihat foto secara utuh, efek grainy kurang terlihat terlebih jika pemotretan menggunakan kamera dengan teknologi terbaru. Biasanya teknologi kamera keluaran terbaru mampu mengurangi efek grainy cukup signifikan. Grainy akan semakin jelas terlihat jika di zoom-in lebih dalam dalam lagi.
Meskipun demikian bukan berarti tidak ada orang yang menyukai grainy. Efek grainy juga banyak digunakan untuk foto agar memberikan kesan tua atau foto lama. Biasanya digunakan untuk foto hitam putih.
Jika lebih sering terganggu dengan efek grainy ini, maka gunakan ISO serendah mungkin ketika hendak memotret. Tetapi jika keadaan memaksa, menaikkan ISO bukan pilihan yang buruk. Di tempat yang remang-remang seringkali hasil foto menjadi goyang karena menggunakan speed yang lambat, untuk itu lebih baik menaikkan ISO agar bisa menggunakan speed yang normal. Bagaimanapun hasil foto grainy masih lebih baik daripada foto yang blur atau tidak fokus.

Mode Kamera

Di era digital, sangat banyak seting yang dibuat untuk tujuan kemudahan kita dalam mengambil gambar alias mode otomatis. Tetapi hasil akhir dari proses ini seringkali tidak sesuai dengan harapan. Sebab mode ini tidak bisa menentukan apakah latar belakang ingin blur, objek menjadi freeze atau pencahayaan yang sedikit dikurangi untuk mendapatkan efek dramatis.
Untuk mengakali hal yang spesifik tersebut, kita harus paham karakter sebuah kamera dan cara kerjanya. Untuk itulah disediakan mode semi dan manual penuh. Berikut kita akan mempelajari mode yang ada di sebuah kamera DSLR.

Mode Otomatis
Lihat mode dial pada kamera kita, dan kita akan melihat batas antara mode otomatis dan mode manual seperti contoh gambar mode dial di sebelah kiri (beda tipe kamera berbeda jenis menu dan lambangnya, cek buku manual).
Lambang berwarna hijau dan bertuliskan ‘auto’ (di beberapa kamera tidak ada tulisan ‘auto’ dan hanya diwakili lambang berwarna hijau), adalah mode full automatic (otomatis penuh). Di mode ini, kita menyerahkan setingan sepenuhnya kepada kamera termasuk diafragma, speed, ISO, pop-up flash, white ballance, metering, titik fokus dan semua hal-hal lainnya. Tugas kita tinggal membidik dan memotret.
Di salah satu sisi sebelah atas lambang ini, kita akan menemukan mode otomatis lainnya antara potrait, landscape, macro, sport, sunset dan night scene. Memilih satu dari seting otomatis yang ada berarti kita menyerahkan setingan terbaik kepada kamera. Sayangnya setingan terbaik untuk kamera belum tentu cocok dengan kemauan kita.
Dalam mode otomatis penuh ini, bila kondisi terlalu gelap maka kamera akan membuka pop-up flash secara otomatis agar foto yang dihasilkan cahayanya cukup. Sekali lagi sayangnya seringkali pop-up flash memberikan hasil yang terlalu keras. Objek foto terlihat tetapi suasana sekitar biasanya menjadi gelap.
Sebagai nyubi, kita mungkin memiliki pemahaman umum dimana jika memotret pada waktu malam hari, maka menggunakan mode night scene, jika ingin memotret pemandanganngan kita menggunakan mode landscape. Tetapi sebenarnya kita tidak paham apa yang sedang kamera kita lakukan untuk mendapatkan hasil. Untuk itu, kita perlu memahami cara kerja mode manual.

P (Programme)
Mari kita mulai memasuki mode manual. Meskipun mode P merupakan mode otomatis juga, namun secara umum P masuk dalam kategori manual.
Dalam mode ini kamera menyesuaikan diafragma dan speed dengan kondisi cahaya secara otomatis. Tetapi, untuk seting lainnya diserahkan kepada kita seperti white ballance, titik fokus, ISO dan lainnya. Pop-up flash tidak akan terbuka dalam kondisi apapun kecuali kita membukanya untuk memberikan bantuan pencahayaan.
Mode ini digunakan pada saat kita tidak memiliki banyak waktu dalam mengabadikan momen seperti untuk kepentingan dokumentasi dalam sebuah pesta atau untuk mengejar berita.

S/TV (Speed/Time Value)
Dalam mode ini, prioritas ditempatkan pada speed atau kecepatan rana. Kita tidak perlu memikirkan seting diafragma karena diafragma akan mengikuti secara otomatis. ISO dapat disetel secara otomatis atau manual.
Mode ini digunakan untuk objek yang bergerak secara cepat seperti kendaraan bermotor dan olahragawan. Dengan memprioritaskan speed maka hasil yang diperoleh pada objek dapat diatur menjadi freeze (membeku) atau motion blur (blur pergerakan).
Sama seperti mode P, dalam mode ini semua setingan (selain diafragma dan ISO jika sudah diatur secara otomatis) kita yang mengatur.

A/Av (Aperture/Aperture Value)
Kebalikan dari mode S/Tv, A/Av mengutamakan diafragma (aperture) sedangkan speed akan menyesuaikan. ISO juga dapat disetel secara otomatis dan manual.
Mode ini digunakan untuk mendapatkan hasil foto dengan kualitas tajam atau blur pada background/foreground (latar belakang/depan) sebuah objek agar sebuah objek menjadi dominan dalam sebuah foto.
Seperti pada mode P dan S, mode A juga mengharuskan Kita menentukan sendiri setingan tepat untuk hal lainnya.

M (Manual)
Mode ini menyerahkan semua seting kepada kita. ISO dapat disetel otomatis dan manual. Speed dan diafragma yang tepat ditentukan oleh diri kita sendiri.
Dalam beberapa kasus mode manual akan lebih membantu untuk menghasilkan gambar yang optimal. Namun untuk menggunakan mode ini diperlukan pengalaman yang cukup dalam mengoperasikan kamera. Jika sudah sering menggunakan kamera maka kita akan segera terbiasa menggunakan mode manual.

Baik otomatis maupun manual, semuanya sah-sah saja untuk digunakan. Tetapi sering menggunakan mode otomatis tidak akan membuat kita menjadi lebih pintar dalam memotret. Mode manual meskipun merepotkan, tetapi kita akan paham mengenai cara sebuah kamera bekerja dan menghasilkan foto.
Mungkin belum paham benar dengan penjelasan singkat untuk mode-mode di atas. Bagian berikutnyaakan membantu kita dalam memahami dasar kinerja sebuah kamera dan setingan seperti apa yang paling cocok untuk hasil foto yang kita inginkan.

Membidik Melalui Viewfinder

Melihat melalui viewfinder merupakan cara yang paling nyaman dalam membidik objek dan memposisikannya tepat di titik fokus yang kita inginkan. Dan melalui viewfinder gerak seorang fotografer lebih lincah saat membidik objek yang bergerak cepat seperti mobil dibandingkan menggunakan LCD yang posisinya cukup memiliki jarak antara mata dengan layar LCD. Berikut adalah alasan mengapa melihat di viewfinder merupakan pilihan yang terbaik.
Pertama, melihat melalui viewfinder kita dengan mudah dapat mengubah titik fokus, melihat informasi di panel tentang seting kamera yang sedang digunakan serta dengan cepat dapat merubahnya tanpa harus memindahkan pandangan ke monitor LCD.
Kedua, melalui viewfinder, ‘what you see is what you get’. Viewfinder mencakup 98%-100% dari yang akan didapatkan di foto. Mata Kita akan melihat semua objek yang ada tepat di depan lensa. Apa yang dilihat melalui viewfinder adalah apa yang akan didapatkan di hasil foto.
Ketiga, lebih lincah. Memotret menggunakan live view membutuhkan waktu yang lebih lama pada saat proses pengambilan gambar dan proses autofocus. Melalui viewfinder kita akan lebih lincah dalam mengatur komposisi dan autofocus.
Intinya, membidik melalui viewfinder merupakan cara terbaik bagi seorang fotografer untuk menghasilkan foto. Liveview hanya diperlukan pada kondisi tertentu saja khususnya pada saat kita dapat mengendalikan situasi seperti memotret produk dengan menggunakan tripod.
Panel informasi di dalam viewfinder
Di dalam viewfinder akan ditemukan berbagai macam informasi diantaranya titik fokus. Banyaknya titik fokus tergantung dari tipe kamera. kita dapat memilihnya secara manual atau kita dapat menyetelnya menjadi otomatis.
Selain itu kita juga akan menemukan panel informasi, biasanya berada di bagian bawah jika kita membidik melalui viewfinder. Di panel ini kita akan menemukan banyak informasi mengenai seting kamera seperti ISO, diafragma, speed, lightmeter dan banyak lainnya.


Proses Fokus
Untuk lebih memperjelas tentang bagaimana proses memotret menggunakan viewfinder, fokus pada objek dan menekan tombol shutter, berikut akan saya bahas mengenai proses tersebut.
Membidik melalui viewfinder
- klik gambar untuk memperbesar
Pada gambar panel informasi di atas terdapat 19 titik fokus. Untuk melakukan kegiatan fokus, pada saat kita membidik melalui viewfinder kita dapat menentukan titik fokus yang mana yang akan kita pusatkan sebagai area yang fokus (untuk cara memilihnya lihat kembali buku manual masing-masing). Setelah dipilih, tekan tombol shutter setengah (cara menekannya ada di sini), hingga terdengar bunyi 'tidit' dari kamera kita dan titik fokus yang dipilih berkedip berwarna merah. Jika bunyi dan kedip berwarna merah sudah terjadi, maka kamera siap untuk memotret. Tekan tombol shutter secara penuh dan hasilnya langsung  dapat dilihat.
Gambar di atas adalah contoh bidikan menggunakan viewfinder. Dapat dilihat titik fokus yang berwarna merah yang menandakan bahwa pada titik itu gambar difokuskan. Area lain yang posisinya tidak berada di titik tersebut dan tidak sejajar dengan objek yang menjadi fokus, seperti pada latar belakang (seorang wanita dan asap) berada di luar fokus (blur).
Jika kita menggunakan fasilitas live view (membidik melalui LCD monitor) proses fokus akan jauh lebih sulit karena memindahkan titik fokus tidak semudah melalui viewfinder, proses fokus juga lebih lama dan tubuh kita lebih rentan terhadap goncangan. Gunakan selalu viewfinder dan gunakan live view hanya jika fasilitas tersebut dirasa mempermudah kita dalam memotret.

Cara Memegang Kamera

Cara memegang kamera
SLR yang benar
Kamera SLR baik digital maupun analog terdiri dari dua bagian utama yaitu bodi kamera dan lensa. Kedua tangan kita akan bertugas menyangga masing-masing di salah satu bagian ini, yaitu tangan kanan untuk bodi kamera dan tangan kiri menyangga lensa.
Bagian kanan bodi kamera SLR telah didesain sedemikian rupa sehinngga nyaman untuk digenggam menggunakan tangan kanan. Posisi ibu jari berada di bagian belakang bodi sebagai penyangga dan bertugas untuk mengubah setingan kamera melalui tombol-tombol yang berada di belakang bodi kamera.
Sedangkan telunjuk berada di posisi tombol shutter dan bertugas mengambil setiap momen yang berharga serta mengubah setingan dari tombol maupun dial yang ada di sekitar tombol shutter. Tiga jari lainnya bertugas menggenggam bodi kamera agar stabil.
Sementara itu, tangan kiri bertugas menyangga lensa dengan posisi ibu jari berada di sebelah kiri lensa dan keempat jari lainnya menyanga dari sisi yang lainnya. Dengan posisi seperti ini, kita dengan mudah dapat mengubah setingan zoom atau fokus manual sambil menyangga kamera. Ibu jari tangan kiri juga dengan mudah dapat mengubah switch yang ada di lensa (jika ada).
Dengan cara ini goyangan yang mungkin terjadi pada saat menekan tombol shutter akan berkurang. Tetapi jika cahaya sangat redup dan mengharuskan kita menggunakan speed yang lambat, cari sandaran untuk membantu agar dapat mempertahankan kamera sehingga tidak goyang.

Tombol Shutter

Tombol shutter
Tombol shutter merupakan tombol utama dalam mengeksekusi momen berharga. Posisi tombol ini di setiap kamera pasti sama, yaitu di sebelah kanan atas kamera. Posisinya sangat mudah dijangkau oleh jari telunjuk tangan kanan kita sehingga memudahkan kita dalam mengeksekusi sebuah gambar.
Bagi orang yang jarang sekali memotret banyak sekali yang tidak mengetahui bahwa satu tombol shutter memiliki dua fungsi, yaitu autofokus dan eksekusi gambar. Pada saat kita menekan tombol ini setengah, kamera akan melakukan proses fokus terhadap objek di depannya. Setelah selesai melakukan proses tersebut, barulah tangan kita menekan penuh tombol tersebut dan seketika kamera mengambil gambar yang ada di depannya.
Beberapa fotografer nyubi mungkin juga belum mengetahui hal ini. Saya sering melihat beberapa teman-teman yang selalu menekan tombol shutter langsung secara penuh, padahal proses fokus belum selesai. Jika proses fokus belum selesai dilakukan oleh kamera, maka kamera tidak akan pernah mengijinkan untuk mengambil gambar meskipun kita telah menekan tombol shutter secara penuh. Hal ini juga terjadi di kamera pocket dan prosumer. Berikut adalah tahapan dalam menekan tombol shutter.
Tombol shutter (kiri), tekan setengah (tengah), tekan penuh (kanan)