Tampilkan postingan dengan label Anatomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anatomi. Tampilkan semua postingan

Tombol-tombol dan bagian-bagian lainnya

Setelah membaca artikel tentang anatomi kamera sebelumnya, maka telah dipahami bahwa bagian-bagian tersebut merupakan bagian-bagian yang secara umum setiap kamera pasti memilikinya tetapi bentuk dan penempatannya bisa sedikit berbeda.
Tombol-tombol di belakang kamera
Diluar bagian-bagian tersebut masih terdapat tombol-tombol atau bagian-bagian lainnya yang setiap model dan merk kamera berbeda-beda. Begitu pula dengan banyaknya tombol serta komponen pendukungnya. Ini merupakan hal yang customize atau benar-benar tergantung dari tipe kamera Anda. Misalnya tombol print, tombol shortcut JPEG, receiver infrared dan beberapa lainnya. Tombol-tombol atau komponen pendukung tersebut belum tentu ada di kamera tipe lainnya. Pastikan, baca buku petunjuk untuk lebih jelasnya.
Dengan sering mengoperasikan kamera maka pada akhirnya kita akan paham juga tentang fungsi dari tombol-tombol atau bagian-bagian tersebut.

Kartu Memori (Memory Card)

Saat saya menulis artikel ini, ada dua macam kartu memori yang umum digunakan oleh sebagian besar pabrikan kamera. Yaitu Compact Flash Card (CF Card) dan Secure Digital Card (SD Card). Awal tren kamera DSLR, semua menggunakan CF Card. Tapi belakangan, nampaknya SD Card mulai merambah dan tidak menutup kemungkinan akan mendominasi pasar kamera di waktu yang akan datang.
CF Card
CF Card bentuknya besar dan saat ini digunakan oleh sebagian besar kamera DSLR papan atas di setiap merk yang ada. Slot CF Card terdiri dari puluhan jarum (pin) yang akan masuk kedalam lubang-lubang di CF Card ketika kita memasangkannya di bodi kamera atau card reader. Sayangnya pin ini rentan rusak, khususnya jika sering melepas CF Card dari bodi kamera dan memasangnya ke card reader.
Tentu saja kita harus mencabutnya dari kamera pada saat mentransfer file, tetapi jika sudah terlalu sering, hati-hati jika salah satu pin di dalam kamera bengkok. Satu pin saja bengkok, siap-siap harus merogoh kocek untuk menservisnya.
Selain itu slot CF Card menggunakan tuas yang ditekan untuk mengeluarkan CF Card dari bodi kamera. Dalam beberapa kasus tuas ini sering bermasalah sehingga CF Card tidak bisa keluar dari bodi kamera. Untuk mengakalinya gunakan kabel data yang disediakan pada saat membeli kamera dari untuk mentransfer file dari kamera ke komputer, sehingga kegiatan melepas CF Card tidak perlu dilakukan.
SD Card
SD Card unggul dari bentuknya yang mungil dan sangat mudah diselipkan di sela-sela kantung didalam tas Anda. Memasangnya pun sangat mudah di bodi kamera. Anda cukup menekannya dengan jari hingga terdengar bunyi ‘klik’ dan secara otomatis SD Card sudah terkunci. Dari fisiknya pun aman karena tidak ada komponen yang mudah bengkok atau patah. Tapi hati-hati terjatuh dan hilang.
Dilihat dari sisi kemampuan, baik SD Card maupun CF Card sama-bagus. Kekurangan CF Card adalah karena pin dan tuas slot-nya yang rentan rusak. Sedangkan ukurannya besar buat saya tidak menjadi masalah.
Tambahan informasi, beberapa produsen kamera saat ini juga memproduksi kamera dengan dua slot memory card.

Baterai Kamera

Baterai
Era digital saat ini tentunya membutuhkan baterai yang lebih kat karena komponen elektronik dalam kamera semakin banyak dan membutuhkan energi listrik yang lebih besar. Berbeda dengan kamera analog yang menggunakan baterai dengan jenis yang diproduksi masal oleh kebanyakan merk pabrikan baterai. Baterai kamera digital umumnya dibuat oleh merk pabrikan kamera dan disebut baterai original atau asli.
Baterai kamera SLR juga diproduksi oleh pihak ketiga dengan harga yang lebih ekonomis. Saya sendiri belum pernah mencobanya. Jika menggunakan vertical/battery grip yang bisa menggunakan dua baterai sekaligus, sebaiknya tidak menggunakan baterai yang berbeda merk. Misalnya satu baterai pihak ketiga dan satunya baterai original, dikhawatirkan arusnya tidak sama. Sebaiknya gunakan baterai yang sama yaitu original saja atau merk pihak ketiga saja atau gunakan baterai secara bergantian jika baterai yang dimiliki berbeda merk.

Terminal

Terminal
Terminal merupakan sebuah bagian yang biasanya berfungsi sebagai konektor. Berbagai macam kabel dihubungkan di bagian terminal ini yang memiliki fungsi berbeda-beda. Antara lain, kabel data, cable release, kabel video dan lainnya. Secara umum posisinya di sebelah kiri dari bodi kamera dan ditutup oleh penutup karet. Beberapa kamera memiliki terminal di bagian depannya.
Untuk mentransfer file foto saya ke komputer, saya lebih sering menggunakan kabel data yang saya colok via terminal dan menghubungkannya ke komputer saya. Hal ini untuk menghindari memory card yang terlalu sering dilepas dari kamera dan bisa menyebabkan kerusakan. Sebab memory card kamera saya menggunakan CF card. Nanti akan dibahas lebih lanjut tentang hal ini.

Mode Dial

Mode dial
Mode dial berfungsi untuk mengubah-ubah setingan mode pada bodi kamera dari yang otomatis sampai kepada yang manual. Dial ini ada di kebanyakan kamera SLR dan ada juga di beberapa kamera prosumer. Tetapi ada juga kamera baik SLR maupun prosumer yang tidak memiliki dial ini. Bagi kamera yang tidak memiliki mode dial, tetap mereka memiliki tombol yang berfungsi untuk mengubah mode kamera. Baca buku petunjukknya
Posisi mode dial berbeda-beda, ada yang di sebelah kiri bodi, ada yang di sebelah kanan.

Hot Shoe

Hot shoe universal
Sebuah slot di bagian atas bodi kamera yang berfungsi sebagai tempat untuk memasang external flash. Secara umum hot shoe bentuknya universal. Namun khusus SLR merk Sony memiliki hot shoe dengan bentuk yang merupakan ‘kebalikan’ dari hot shoe universal, seperti yang sudah dibahas di bagian awal.
Terdapat penutup untuk hot shoe yang beredar di pasaran, fungsinya untuk menutupi hot shoe agar terminalnya terlindungi dari kemungkinan kerusakan yang diakibatkan hal-hal tak terduga seperti karat. Malah ada yang memiliki waterpass di atasnya untuk membantu Anda memposisikan kamera sesuai dengan garis horizon.
Bila hot shoe cover ini terpasang di posisinya, secara otomatis pop-up flash tidak berfungsi. Lepaskan cover ini untuk menggunakan pop-up flash.

Pop-up Flash

Pop-up flash
Lampu flash (blitz) kecil yang terdapat di bagian atas bodi kamera. Lampu ini cukup membantu dalam keadaan darurat, tapi sering kali hasil sinar yang dipancarkan terlalu keras karena posisinya langsung menghadap objek. Pop-up flash dapat secara otomatis terbuka jika Anda menggunakan mode otomatis.
Meskipun kita akan jarang menggunakannya, flash ini sebaiknya dinyalakan setiap bulannya agar fungsinya tidak rusak. Tembakkan beberapa kali ketika ada waktu sekedar untuk menyegarkan flash mungil ini.
Tidak semua bodi kamera memiliki pop-up flash, khususnya bodi kamera merk Canon untuk kelas profesional.
Lens release button
Lens release button hanya terdapat di kamera SLR, kamera pocket dan prosumer lensanya sudah permanen. Tombol ini berfungsi untuk mengunci dan melepas lensa Anda. Posisinya cukup umum yaitu di sebelah kiri dari lensa jika kamera Anda menghadap kedepan. Semua kamera SLR umumnya memiliki tombol ini di posisi yang kurang lebih sama. 
Untuk melepas lensa, cukup tekan dan tahan tombol ini lalu putar lensa ke arah yang tepat. Kemana arahnya tergantung merk kamera kita dan berbeda merk terkadang berbeda cara memutar arahnya. Ada yang searah maupun berlawanan jarum jam. Tetapi setiap kamera dengan merk yang sama memiliki cara yang sama untuk melepas lensanya.

LCD (liquid Crystal Display) Monitor

LCD monitor
Bagian ini merupakan bagian yang paling membedakan kamera dengan teknologi analog dan digital. Di era analog, Anda tidak akan menemukan layar berwarna yang dapat memperlihatkan hasil foto Anda secara instan. Saat ini Anda bisa melihatnya seketika.
Awal era digital mulai merambah, layar LCD hanya seukuran satu sampai dua inchi. Tapi saat ini ukuran layar LCD rata-rata tiga inchi, bahkan untuk kamera pocket sekalipun. Jumlah warna dan pixel pada layar LCD pun saat ini sudah sangat tinggi. Jadi Anda benar-benar bisa puas melihat hasil foto Anda secara instan.

Viewfinder


Viewfinder
Viewfinder adalah tempat kita membidik objek yang akan kita foto. Apa yang kita lihat melalui viewfinder merupakan pantulan langsung dari apa yang ada di depan lensa yang dipantulkan melalui cermin di dalam kamera kita. Viewfinder juga bisa disetel untuk mereka yang menggunakan kacamata baik minus maupun plus. Ada dial kecil di samping viewfinder yang terdapat lambang '-' & '+' yang dapat disesuaikan. Baca buku petunjuk untuk lebih jelasnya
Viewfinder mencakup 98% dari apa yang terekam dalam foto kita. Bahkan untuk beberapa kamera papan atas dan keluaran baru, viewfinder-nya bisa mencakup 100% dari apa yang kita lihat atau biasa juga disebut 'what you see is what you get'.
Beberapa orang awam bingung mengapa kamera canggih seperti SLR harus tetap ‘mengintip’ untuk mengambil sebuah foto, tidak seperti kamera pocket yang langsung melihat apa yang ada di LCD-nya (live view). Dan yang lebih lucu sebagian dari mereka menyatakan kamera SLR tidak canggih.
Itu semua cerita lama. Saat ini, hampir semua kamera DSLR juga telah dilengkapi dengan fitur live view untuk membuat pemotretan tertentu lebih nyaman seperti memotret produk. Tetapi, viewfinder tetap merupakan pilihan terbaik untuk mengkomposisi objek.

Main & Secondary Dial

Secondary dial Canon
Setiap kamera SLR pasti memiliki alat yang berfungsi untuk merubah seting diafragma dan speed yang disebut dengan dial. Posisinnya biasanya mudahdijangkau oleh jari telunjuk tangan kanan (main dial) dan ibu jari tangan kanan (secondary dial)
Di kamera SLR kelas entry level biasanya dial ini dijadikan satu sedangkan untuk kelas di atas entry level dial ini biasanya dipisah dan dinamakan main dial dan secondary dial. Alat ini umumnya bisa diputar yang berfungsi mengubah setingan diafragma. Untuk mengubah fungsi main dial menjadi secondary dial di kamera kelas entry lebel, kita perlu menekan sebuah tombol dan menahannya. Pada saat kita menekan tombol tersebut, maka main dial akan berubah menjadi secondary dial.
Selain untuk mengatur diafragma dan speed, main & secondary dial juga berfungsi untuk navigasi menu di kamera. Untuk lebih jelasnya, jangan lupa untuk membacar buku petunjuk kamera Anda.

Tombol Shutter

Tombol shutter
Tombol shutter merupakan tombol utama dalam mengeksekusi momen berharga. Posisi tombol ini di setiap kamera pasti sama, yaitu di sebelah kanan atas kamera. Posisinya sangat mudah dijangkau oleh jari telunjuk tangan kanan kita sehingga memudahkan kita dalam mengeksekusi sebuah gambar.
Bagi orang yang jarang sekali memotret banyak sekali yang tidak mengetahui bahwa satu tombol shutter memiliki dua fungsi, yaitu autofokus dan eksekusi gambar. Pada saat kita menekan tombol ini setengah, kamera akan melakukan proses fokus terhadap objek di depannya. Setelah selesai melakukan proses tersebut, barulah tangan kita menekan penuh tombol tersebut dan seketika kamera mengambil gambar yang ada di depannya.
Beberapa fotografer nyubi mungkin juga belum mengetahui hal ini. Saya sering melihat beberapa teman-teman yang selalu menekan tombol shutter langsung secara penuh, padahal proses fokus belum selesai. Jika proses fokus belum selesai dilakukan oleh kamera, maka kamera tidak akan pernah mengijinkan untuk mengambil gambar meskipun kita telah menekan tombol shutter secara penuh. Hal ini juga terjadi di kamera pocket dan prosumer. Berikut adalah tahapan dalam menekan tombol shutter.
Tombol shutter (kiri), tekan setengah (tengah), tekan penuh (kanan)

Tombol On/Off

Tombol On/Off
Ketika mengoperasikan kamera untuk pertama kalinya, inilah tombol yang pasti pertama kita sentuh dan operasikan. Tombol on/off, seperti namanya tombol ini berfungsi untuk mematian dan menyalakan kamera. Tombol on/off posisinya berbeda-beda disetiap tipe kamera, ada yang di dekat tombol shutter, ada yang di dekat mode dial, ada yang di bagian belakang dan bagian-bagian lainnya.
Dalam satu merk, posisi tombol on/off setiap tipe bisa jadi berbeda. Seperti pada merk Canon yang pada tipe entry level biasanya terletak di sebelah kanan atas dekat mode dial dan tipe profesionalnya yang berada di belakang dekat layar LCD. Dimanapun letak tombol on/off-nya pastikan kita membiasakan diri dengan tombol ini di kamera kita. Sebab jika secara tiba-tiba kita menemukan momen menarik dan ingin segera memotretnya, kesulitan untuk menyalakan kamera bisa-bisa menjadi bencana.
Berbicara mengenai tombol on/off menurut saya merk Nikon yang paling konsisten dengan posisinya yang berada melingkari tombol shutter seperti pada gambar di sebelah kiri. Pada posisi tersebut, tombol on/off-nya sangat mudah dijangkau dan dioperasikan menggunakan jari telunjuk tangan kanan kita.

Memahami Anatomi Bodi Kamera

Sudah memutuskan membeli yang mana? Yang manapun keputusannya, selama ada kamera di tangan, mari kita lanjutkan pelajaran. Kali ini tentang anatomi kamera SLR. Bagi yang tidak memiliki kamera SLR, tidak apa-apa, ilmunya kurang lebih sama. Dan jika sudah menguasai ilmunya, kamera pocket atau prosumer juga bisa menjadi senjata andalan.
Kamera SLR secara bentuk jika dilihat sepintas mirip satu dengan lainnya. Tetapi sebetulnya beda tipe atau beda merk, cara pengoperasiannya berbeda pula. Tapi bagaimanapun tetap memiliki tujuan yang sama yaitu mengatur ISO, mengatur diafragma, mengatur speed lalu membidik melihat lightmeter dan menekan tombol shutter.
Dan berbicara mengenai kamera SLR, ada dua bagian utama yang merupakan senjata fotografer untuk memotret yaitu bodi kamera dan lensa. Jika kita berbicara kamera pocket dan prosumer kita tidak akan membahas lensa lebih dalam.
Seperti yang saya bilang, beda tipe atau beda merk berbeda pula cara pengoperasiannya. Pastikan memahami betul tentang bodi kamera yang dimiliki, biasakan untuk memegang dan mengoperasikannya dan bila perlu bawa selalu kitab suci (manual book) yang termasuk di dalam paket ketika membeli kamera. Buat yang membeli kamera bekas, jika ada kitab sucinya jangan lupa ucapkan syukur dan bagi yang tidak memilikinya,... kasian deh loe :p
Artikel selanjutnya akan membahas mengenai bagian-bagian utama yang lebih detail tentang bodi kamera.